Statistika dan Dinamika Sosial

1 komentar

Senin, 19 Desember 2011


Dengan statika sosial dimaksudkan semua unsur struktural yang melandasi dan menunjang orde, tertib, dan kestabilan masyarakat. Antara lain disebut: sistem perundangan, struktur organisasi, dan nilai – nilai seperti keyakinan, kaidah dan kewajiban yang semuanya memberi bentuk yang konkret dan mantap kepada kehidupan bersama. Statika sosioal itu disepakati oleh anggota dan karena itu disebut dengan volonte general (kemauan umum). Mereka mengungkapkan hasrat kodrati manusia akan persatuan, perdamaian, dan kestabila atau keseimbangan. Tanpa unsur – unsur struktural ini kehidupan bersama tidak dapat berjalan. Pertengkaran dan perpecahan mengenai hal – hal yang dasar, sehingga suatu kesesuaian paham tidak tercapai, menghancurkan masyarakat.
Dengan istilah dinamika sosial dimaksudkan semua proses pergolakan yang menuju perubahan sosial. Dinamika sosial adalah daya gerak sejarah tersebut tadi, yang pada setiap tahap evolusi mendorong kearah tercapainya keseimbangan baru yang setinggi dengan kondisi dan keadaan zaman. Dalam abad ke-18 dinamika sosial paling menonjol dalam perjuangan dan usaha untuk mengganti gagasan – gagasan agama yang lama dan konsep – konsep positif dan ilmiah yang baru. Comte telah belajar dari sejarah dunia, bahwa tiap – tiap perubahan dibidang politik, hukum, tata pemerintahan, kesenian, agama, ilmu pengetahuan dan filsafat langsung berkaitan dengan hukum evolusi akal budi. Tiap – tiap tahap baru dalam cara manusia berpikir menghasilkan bentuk masyarakat yang baru juga.
Pada tahap religius masyarakat dihayati sebagai kehendak dewa atau Allah. Pemerintahannya berstruktur feodal dan paternalistis. Hormat besar bagi pemimpin dan pembesar menjadi wajib. Ekonominya bercorak “militaristis” dalam arti bahwa orangnya tidak memproduksi sendiri barang kebutuhan mereka, tetapi memetik hasil bumi atau meramu saja. Tahap metafisika mengakibatkan kemunduran agama, yang terlihat dari adanya perombakan atas kehidupan bersama yang tradisional. Tahap positivisme sekarang membangun kembali suatu orde baru yang kokoh – kuat, dimana peranan agama dan filsafat diambil alih oleh ilmu pengetahuan positif yang tangguh dan universal. Sarjana mengganti ulama, dan industriawan mengganti serdadu ( Storig H.J., dalam Veeger, 1982).
Comte telah menyaksikan krisis sosial yang hebat, disebabkan oleh pembenturan antara masyarakat tradisi dengan masyarakat industri baru. Kendati demikian, ia berkeyakinan teguh bahwa masyarakat akan menjadi tertib kembali kalau suatu kesepakatan tentang nilai – nilai baru akan tercapai.

Pokok Pikiran Filsafat Potisivisme Auguste Comte

0 komentar
Comte adalah orang pertama yang menggunakan istilah sosiologi (Pickering,2000: Turner, 2001) ia membawa pengaruh besar pada beberapa orang teoretisi sosiologi yang lebih kemudian (khususnya Herbert Spencer dan Emile Durkheim). Ia percaya bahwa studi sosiologi haruslah ilmiah, sebagaimana yang telah dirintis teoretisi klasik dan sosiolog-sosiolog kontemporer (Lenzer, 1975).
Comte sangat terusik oleh anarki yang berlangsung di tengah-tengah masyarakat Prancis dan bersikat kritis terhadap pemikir yang menumbuhkembangkan pencerahan dan revolusi ia mengembangkan pandangan ilmiahnya, “positivisme” atau “filsafat positif”, untuk menyerang apa yang dipandangnya filsafat negative dan destruktif dari pencerahan. Comte sejalan, dan dipengaruhi oleh pemikir khatolik kontrarevolusi Prancis (khususnya de Bonald dan de Maistre).Namun, karyanya dapat dibedakan dari pandangan kedua orang tersebut paling tidak karena dua alasan.Pertama, menurut pendapatnya, tidak mungkin kembali lagi ke zaman pertengahan; kecanggihan ilmu pengetahuan dan industry menjadikannya mustahil.Kedua, ia mengembangkan sistem teoritis yang jauh lebih canggih daripada pendahulunya, sebuah sistem teoritis yang cukup untuk membangun sosiologi awal.
Meskipun Comte memberikan istilah positivisme, gagasan yang terkandung dalam kata itu bukan dari dia asalnya. Masyarakat positivis percaya bahwa masyarakat merupkan bagian dari alam dan bahwa metode – metode penelitian empiris dapat dipergunakan untuk menemukan hukum – hukum yang sudah tersebar luas di lingkungan intelektual diman Comte hidup. Tetapi sementara kebanyakan kelompok positivis berasal dari kalangan orang – orang yang progresif yang berekad mencampakkan tradisi – tradisi irasional dan memperbaharui rakyat dengan hukum alam sehingga menjadi lebih rasional, Comte percaya bahwa penemuan hukum – hukum alam itu akan membukakan batas – batas yang pasti melekat (inherent) dalam kenyataan sosial, dan melampaui batas – batas itu  usaha pembaruan akan merusakkan dan menghasilkan sebaliknya.
Comte melihat perkembangan ilmu tentang masyarakat yang bersifat ilmiah ini sebagai puncak suatu proses kemajuan intelektual yang logis melalui mana semua ilmu – ilmu lain sudah melewatinya. Kemajuan ini mencakup perkembangan dari bentuk pemkiran teologis, metafisis yang pada akhirnya samapi terbentuknya hukum – hukum ilmiah yang positif. Bidang Sosiologi (Fisika Sosial) adalah paling akhir melewati tahap – tahap ini, karena pokok permasalahnnya lebih kompleks daripada yang terdapat dalam ilmu fisika dan biologi.
Mengatasi cara – cara berfikir mutlak yang terdapat dalam tahap – tahap pra-positif, menerima kenisbian pengetahuan kita secara terus menerus terbuka terhadap kenyataan – kenyataan baru merupakan ciri khas yang membedakan pendekatan positivis yang digambarkan Comte

Gemeinschaft dan Gesellschaft

1 komentar
Teori ini dikemukakan oleh Ferdinand Toennies untuk membedakan konsep tradisional dan modern. Gemeinschaft disebut juga paguyuban, yaitu merupakan bentuk kehidupan bersama dimana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang bersifat alamiah dan kekal. Dasar hubungan tersebut adalah timbul dari rasa cinta dan kesatuan batin.
Jenis Gemeinschaft :
Gemeinschaft by blood : 
 Gemeinschaft yang mendasarkan diri pada ikatan darah atau keturunan. Contohnya: kekerabatan, keluarga.
Gemeinschaft of place : 
  gemeinschaft yang mendasarkan diri pada tempat tinggal yang saling berdekatan sehingga dimungkinkan untuk dapat saling tolong menolong.  
Contoh : RT, RW

Gemeinschaft of mind :
  Gemeinschaft yang mendasarkan diri pada ideology atau pikiran yang sama. Contoh : rasa kekerabatan, persahabatan.
 Gesellschaft (patembayan) merupakan ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktu yang pendek, bersifat sebagai suatu bentuk dalam pikiran belaka serta strukturnya bersifat mekanis sebagaimana dapat diumpamakan sebagai sebuah mesin. Bentuk gesellschaft terdapat dalam hubungan perjanjian yang berdasarkan ikatan timbal balik misalnya ikatan antara pedagang, organisasi dalam suatu pabrik.

Emile Durkheim

0 komentar

Selasa, 06 Desember 2011

Fakta Sosial yang digunakan Emile Durkheim untuk teori Bunuh Diri miliknya, berdasar pada data di Rumah Sakit, sehingga diciptakan 4 Teori bunuh diri, yakni :
1. Egois
2. Alturis
3. Anomi
4. Fatalistik

Teori Bunuh Diri miliknya berlaku hingga sekarang, seperti yang terjadi pada TKW di Indonesia dan beberapa wilayah di dunia.

Teori Bunuh Diri Fatalistik banyak terjadi di Wonosari, pelaku merasa 'lonely' dan seakan tak mampu lagi berinteraksi kepada sekitar. Lalu Bunuh Diri Alturis, dimana contoh merupakan Harakiri di Jepang. Pelaku memiliki disiplin tinggi dan rasa malu yang tinggi, hinga bunuh diri pun menjadi satu jalan keluar yang terbaik.

Hal-hal tersebut serta fenomena-fenomena yang ada di masyarakat tersebut seakan menjadi sebuah Trend di masyarakat sekarang. Himpitan masalah Globalisasi serta Superioritas ekonomi mendesak para 'korban kehidupan' ini memilih pilihan terakhir tersebut daripada menginovasi sebuah kesempatan yang ada di masyarakat (peluang bisnis).

Namun untuk menciptakan sebuah jalan keluar di jaman serba uang ini sangat sulit untuk rakyat menengah ke bawah seperti kaum miskin. Perhatian Pemerintah sekarang lebih tertuju pada 'murah' dan 'sejahtera' bagi rakyatnya yang berkecukupan dibanding meningkatkan mutu hasil produksi dalam negeri, misal petani-petani sekarang yang lebih terpuruk dibanding beberapa puluh tahun lalu pernah menjadi negara 'macan Asia'. Kesejahteraan lebih terjamin dan lebih terpercaya yang dulu dijanjikan pun menjadi sebuah angin lalu yang tak mampu dipercaya lagi.

Keterkaitan Komunikasi dengan Sosialisasi di Masyarakat

0 komentar

Komunikasi merupakan salah satu unsur penting dalam hidup bermasyarakat. Karena hal itu merupakan satu faktor terfatal untuk menciptakan Interaksi sosial an hubungan sosial.
Komunikasi merupakan elemen penting bagi proses sosialisasi dalam masyarakat. Karena tanpa adanya komunikasi antar anggota masyarakat, proses sosialisasi tidak akan dapat berlangsung. Jadi, dengan adanya komunikasi, proses sosialisasi dalam masyarakat akan dapat berlangsung secara maksimal.
Proses sosialisasi tercipta berasal dari interaksi sosial, dan interaksi sosial tercipta dari Komunikasi yang berjalan lancar. Ketiga hal itu tak mampu dipisahkan karena saling berkaitan, dan harus ada untukm menciptakan Sosialisasi yang maksimal. Sehingga harus ada unsure-unsur yang telah disebutkan diatas.   
Jadi, komunikasi mendukung dan menjadi faktor utama terjadinya suatu sosialisasi di dalam masyarakat. Karena tanpa adanya komunikasi, proses sosialisasi di dalam masyarakat tidak akan berlangsung ataupun tercipta secara baik.

Peran Orang Tua yang Baik

0 komentar

Senin, 05 Desember 2011


Pentingnya peran orangtua dalam membimbing anak juga harus diikuti dengan wawasan yang luas dari orangtua itu sendiri. Orang Tua harus mampu memberikan pengarahan yang tepat sehingga anak dapat berkembang secara optimal. "Orangtua harus paham akan tahapan perkembangan anak, agar waspada apabila anak dicurigai mengalami keterlambatan dalam perkembangannya," tutur Dr Nita Ratna Dewanti, SpA, spesialis anak dari RS Premier Bintaro, saat talkshow yang bertemakan "Mengoptimalkan Kecerdasan Anak dan Rahasia Masa Keemasan Tumbuh Kembang Anak" di Ballroom Kompas Gramedia, Jakarta Barat, Kamis (20/11/2011).

Usia 0 sampai 12 tahun merupakan masa yang penting bagi anak. Hal ini harus dimanfaatkan  oleh orangtua untuk lebih menggali kemampuan anak, seperti mendaftarkan anak untuk beberapa kegiatan seperti mempelajari bahasa asing atau belajar memainkan alat musik. Selama anak merasa senang melakukan kegiatan itu, orangtua tidak perlu khawatir.
Namun, tidak jarang ada orangtua yang terlalu memaksakan kehendak mereka tanpa memperhatikan kondisi sang anak. Umumnya orangtua menjadi marah ketika anak tidak ingin menuruti perkataan orangtuanya. Tanpa disadari orangtua pun mengeluarkan cap buruk (labelling) kepada anak seperti "anak nakal" atau "anak bodoh".
"Anak akan berpikir sendiri bahwa ia memang anak nakal, yang nantinya ia malah akan betul-betul menjadi anak yang nakal," jelas Dra Diennaryati Tjokrosuprihartono, MPsi, dalam acara yang sama.
Saat berusaha mengembangkan kemampuan anak, sadari bahwa kemampuan setiap anak berbeda. Kegagalan untuk melakukan apa yang Anda inginkan, bukanlah semata-mata kesalahan anak. Beri motivasi yang dapat membuat anak mampu bangkit dari kegagalannya.
Cara tersebut harusnya mampu memeberikan inspirasi untuk Orang Tua-orang tua di Tampubolon, agar mampu mengontrol anak dalam hal apapun terutama masalah yang diangkat dalam Film Dokumenter tersebut. Tak perlu menggunakan kekerasan dalam mengatasi masalah anak yang masih ingin ini itu,
Sebagaimana senyuman yang damai, kadang harus memarahi anak. Ini bukan berarti meninggalkan kelembutan, sebab memarahi dan sikap lemah-lembut bukanlah dua hal yang bertentangan. Lemah-lembut merupakan kualitas sikap, sebagai sifat dari apa yang  lakukan. Sedangkan memarahi -bukan marah-merupakan tindakan. Orang bisa saja bersikap kasar, meskipun dia sedang bermesraan dengan istrinya.
Persoalan kemudian, acapkali tidak bisa meredakan emosi pada saat menghadapi perilaku anak yang menjengkelkan.  menegur anak bukan karena ingin meluruskan kesalahan, tetapi karena ingin meluapkan amarah dan kejengkelan. Tidak mudah memang, tetapi perlu terus-menerus belajar meredakan emosi saat menghadapi anak, utamanya saat menghadapi perilaku mereka yang membuat  ingin berteriak dan membelalak. Jika tidak, teguran  akan tidak efektif. Bahkan, bukan tidak mungkin mereka justru semakin menunjukkan "kenakalannya".
Sekali lagi, betapa pun sulit dan masih sering gagal,  perlu berusaha untuk menenangkan emosi saat menghadapi anak sebelum  menegur mereka, sebelum  memarahi mereka. Selebihnya, ada beberapa catatan yang bisa diperhatikan: Ajarkan Kepada Mereka Konsekuensi, Bukan Ancaman
Anak-anak belajar dari Orang Tua. Mereka suka mengancam karena  sering menghadapi mereka dengan gaya mengancam. Mereka melihat bahwa dengan cara mengancam, apa yang diinginkannya dapat tercapai. Dari , mereka juga belajar meluapkan kemarahannya untuk menunjukkan "keakuannya".
Saya tidak memungkiri, banyak pengaruh luar yang bisa mengubah perilaku anak. Teman-teman sebaya, khususnya yang sangat akrab dengan anak, bisa mempengaruhi anak. Ia meniru temannya dari cara bicara, bertindak, mengekspresikan kemarahan, sampai dengan kata-kata yang diucapkan. Kadang anak memahami apa yang dikatakan, tetapi terkadang anak tidak tahu apa maksudnya. Ia hanya menirukan apa yang didengar.
Topik kali ini bukanlah tentang peniruan. Karena itu marilah  kembali berbincang bersama bagaimana ancaman kepada anak, acapkali tidak menghasilkan perubahan yang baik. Ancaman tidak banyak bermanfaat untuk menghentikan kenakalan anak atau perilaku yang membuat  sewot. Sebaliknya, ancaman justru membuat anak belajar berontak dan menentang. Salah satu sebabnya, anak merasa orangtua tidak menyayangi ketika meneriakkan ancaman di telinga mereka. Selain itu,  sering lupa menunjukkan apa yang seharusnya dikerjakan anak manakala  asyik melontarkan ancaman.